Gosip

Lee Hyunseob, SMA meninggal bunuh diri akibat bullying

Lee Hyunseob, SMA meninggal bunuh diri akibat bullying

Kasus yang terjadi terhadap Lee Hyunseob ramai diperbincangkan di Twitter maupun Instagram. Akun tersebut dibuat oleh orang tua murid tersebut dengan nama Im_not_goodatgoodbye. Di dalam akun tersebut terdapat hashtag #justiceforhyunseob. Di dalam website khusus terdapat petisi yang menginginkan penyelidikan ulang terhadap kematian murid SMA tersebut. Petisi mendapatkan partisipasi lebih dari 300.000 orang.

Hentikan bullying sebagai pelajaran dari kasus Lee Hyunseob

Anak muda yang masih berusia 17 tahun dalam usia Korea tersebut mengalami depresi sedan mpat meninggalkan pesan untuk mamanya. Siswa tersebut bersekolah di Gangwon Foreign Language High School yang merupakan sekolah dengan sistem asrama. Jadi bisa dibayangkan siswa tersebut mendapatkan serangan mental, sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Korea reomit menjelaskan secara detail tentang kasus yang terjadi pada ada anak ini. Sebelum Lee Hyunseob memutuskan bunuh diri, ia sempat menuliskan surat untuk mamanya.

“Mah di kehidupan selanjutnya aku pengen ketemu lagi sama mama dan mama harus menjadi mama aku lagi. Di kehidupan berikutnya aku berjanji untuk menjadi anak yang lebih sayang terhadap keluarga. Aku jadi kangen terhadap Sanche (anjing peliharaan di keluarga Lee Hyunseob). Harus selalu baik di sini. Sanche akan bisa menggantikan kekosonganku. Aku adalah Sanche versi manusia. Jangan sampai menyimpan barang-barang yang pernah aku pakai. Aku pergi untuk mencari kebahagiaan. Di hari pemakaman Mama harus senyum. Mama adalah mama yang paling baik. Selamat tinggal keluargaku,” Hansol coba menerjemahkan surat terakhir yang diperoleh mama Lee Hyunseob.

Permasalahan dimulai dari hal kecil yang kemudian dibesar-besarkan dan menjadi semakin parah. Banyak informasi tidak mengenakkan yang akhirnya tersebar ke internet. Namun pihak sekolah seperti memiliki kebiasaan tidak peduli terhadap siswa yang mendapatkan bullying. Ini menjadi pembelajaran kepada semua guru di sekolah untuk peduli terhadap siswa yang terkena bullying. Seharusnya wali kelas harus langsung menelpon orang tua bila ada siswa mengalami depresi akibat bullying. Walaupun tidak terdapat informasi mengenai kesalahpahaman apa yang menyebabkan siswa ini tertekan. Lee Hyunseob kemungkinan mengalami kejadian 24 jam dijauhi murid lainnya karena sistem sekolah berupa asrama.

Siswa ini sempat menulis pesan

Ketika orang tua siswa ini membersihkan barang-barang di asrama, ia menemukan ada tulisan di kertas hijau. Kertas berisikan tulisan yang ditujukan kepada temannya.

“Kok kamu ngira aku juga nggak papa sih? Aku belum makan apa-apa dari Sabtu siang kemarin. Setiap kali aku menatap ke langit, aku ingin menangis. Maka dari itu, aku nggak pernah bisa lagi memandang ke atas. Kalian semua menghindari tatapan mataku. Aku juga tidak melihat adanya kemungkinan situasi membaik. Lama kelamaan orang jadi percaya terhadap rumor yang beredar. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berpura-pura nggak apa-apa. Aku merasa lebih baik ketika bersama kalian. Tapi aku juga takut kalau kalian dekat-dekat aku bisa kena getahnya. Tolong aku butuh bantuan. Aku tidak nggak apa-apa, ” terjemahan Hansol.

Menjadi pelajaran bagi kita, kalau salah paham jangan berlebihan reaksinya. Memaafkan bisa menjadi jalan yang baik. Jangan membuat orang lain sampai depresi akibat suatu rumor, apalagi namanya rumor belum tentu benar. (Novi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *