Daebak

Campuran Budaya Korea dengan Islam, sangat indah dan mempesona

Campuran Budaya Korea dengan Islam, sangat indah dan mempesona

Negeri gingseng Korea Selatan tak asing lagi di beberapa telinga anak-anak muda negara lain terkhusus negara Indonesia. Hal itu karena Korea adalah negara pelopor Kpop, dimana beberapa negara untuk mengetahui tentang hal itu. Beberapa pemuda muslim yang tertarik akan idola Korea bahkan beberapa kemungkinan untuk saat ini mempelajari budaya Korea serta kehidupan muslim lebih dalam. Pasalnya, budaya Korea pun unik, mulai dari makanan, pakaian, huruf yang digunakan, dll. Bagaimana ya kira-kira jadinya campuran budaya Korea dan Islam?

Seorang muslim asal Jerman yang bernama Karim Jordan mengisahkan pengalaman dirinya ketika berkunjung ke Korea Selatan. Kisah Karim Jordan ditulis di situs muslim Korea Selatan. Karim Jordan mengisahkan pengalaman dirinya akan keterkaitan budaya Korea Selatan dengan muslim. Berikut beberapa ulasan Karim Jordan.

Campuran budaya Korea dan Islam, Kehidupan Muslim di Itaewon

Itaewon merupakan pusat orang muslim di Korea Selatan. Sekitar kurang lebih 150.000 orang muslim Seoul tinggal di Itaewon. Diantara mereka merupakan satu pertiga dari penduduk asli Korea. Restoran-restoran halal ramah muslim dapat dijumpai di Itaewon, seperti halnya restoran yang bernama Eid Halal. Restoran itu merupakan milik keluarga asli Korea yang menjadi muallaf.

Itaewon halal food. Foto: Instagram


Terdapat pula masjid central Seoul yang telah berdiri sejak tahun 1976. Nah masjid tersebut ternyata merupakan salah satu masjid Korea yang berjumlah 15. Di Korea Selatan pun terdapat pula sebuah musholla. Jumlahnya lumayan banyak yakni 60 musholla yang dapat pula dijumpai di bandara, pusat perbelanjaan bahkan universitas.

Hanbok

Hanbok merupakan pakaian tradisional khas Korea Selatan. Wanita muda asal Korea Selatan berkata tentang Hanbok. Ia mengungkapkan jika mengenakan pakaian tradisional tersebut rasanya ingin melakukan hal mulia dan berperilaku anggun. Pada zaman dulu jika mengenakan Hanbok, wanita asal Korea biasa menutupi kepala mereka. Penutup kepala tersebut dikatakan sebagai jang-ot. Alasan memakai penutup kepala zaman dulu ternyata memiliki kemiripan dengan menutup kepala wanita muslim. Hal tersebut dikutip dari hijab Live style. Namun, Hanbok saat ini telah dimodikasi dalam bentuk modern, ala Barat. Hal tersebut dianggap agar mudah dijangkau berbagai kalangan.

Hanbok
Hanbok. Foto: Instagram

Menjembatani kesenjangan Korea dan Muslim

Muna Hyunmin Bae orang Korea yang sekarang UEA Uni Emirat Arab, merupakan seorang seniman. Ia berprofesi sebagai seniman untuk menunjukkan bahwa budaya Korea dengan islam aslinya memiliki kedekatan. Muna mengaku bahwa budaya Korea yang diajarkan oleh kedua orang tuanya sedikit ada kemiripan dengan islam. Hal tersebut dikutip dari Kumparan. Muna mengatakan pula bahwa kita bisa menjadi seorang muslim tanpa memandang negara ataupun tempat tinggal. Karena sesungguhnya islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Wallahua’lam. (TCT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *